Asdihen - Menyambut perayaan Imlek, Komunitas Wirausaha
Muslim (KWM) menggelar lomba bertema 'Seribu Jilbab untuk Mualaf' di
Masjid Muhammad Cheng Ho
Surabaya,
Jawa Timur. Perayaan tahun baru bagi kaum Tionghoa ini bertujuan untuk
syiar agama bagi mereka warga Tionghoa di Kota Pahlawan yang beragama
muslim.
Ada sekitar 100 nonik ikut meramaikan lomba mengkreasi
berbagai macam jilbab di masjid milik warga Tionghoa di Surabaya ini. Di
antaranya ada model khas Paris, kemudian Pashmina atau lokal yang
dikombinasikan dengan bentuk wajah dan dipadu baju panjang menutup
aurat.
Menurut Humas KWM, Wirawan Dwi, untuk menyambut Imlek,
pihaknya juga ingin berpartisipasi melalui lomba kreasi jilbab yang
diikuti ratusan mualaf Tionghoa di Surabaya.
"Pada lomba ini,
para mualaf Tionghoa diberi kebebasan berkreasi menciptakan model jilbab
sesuai selera dan berdasarkan kepribadian masing-masing," kata Wirawan
di lokasi lomba, Masjid Muhammad Cheng Ho, Kamis (19/2).
Wirawan
mencontohkan, hijabers yang jiwanya pemalu tentu akan menciptakan bentuk
jilbab yang dipakai layaknya anak sekolah yang baru belajar berhijab
dan suka memberikan pernak-pernik berwarna-warni.
"Dengan
kegiatan ini, kita harapkan bisa memotivasi para mualaf Tionghoa agar
bisa menutup auratnya sesuai ajaran Islam. Dengan menjadi muslimah
sedikit demi sedikit mereka harus mengubah kebiasaan yang dulu biasa
mereka lakukan," katanya lagi.
Mungkin, kata dia, sebelum
memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat dan menjadi muslimah,
mereka dulunya suka mengenakan rok mini, baju lengan pendek dan lainnya.
Setelah masuk Islam mereka harus bisa menutup auratnya.
"Karena
muslimah harus menutup auratnya. Selain itu lomba ini juga untuk
menunjukkan bahwa dengan mengenakan hijab dan menutup anggota tubuhnya,
mereka tetap bisa tampil cantik," sambungnya.
Dalam perayaan
Imlek, warga Tionghoa yang beragama muslim, juga tidak meninggalkan
budayanya, yaitu saling bersilaturahmi dengan saudara sesama etnis
Tionghoa, baik muslim atau nonmuslim.
Wirawan menegaskan, dengan
menggelar acara Seribu Jilbab untuk Mualaf, diharapkan Islam lebih
dikenal lagi di kalangan warga Tionghoa, sekaligus sebagai syiar Islam
dengan cara 'gethok tular.'
"Warga Tionghoa atau lainnya yang
nonmuslim, diharapkan juga bisa melihat budaya santun dari para mualaf
serta diharapkan tertarik memeluk Agama Islam," harap dia.
Sementara,
Ketua Harian Yayasan H Muhammad Cheng Ho, Hasan Basri alias Liem Fus
Shon mengatakan, perayaan Imlek milik bersama, tidak memadang agama apa
yang dianut, bukan hanya milik mereka yang merayakannya di Wihara saja.
"Tapi semua warga Tionghoa, baik muslim maupun nonmuslim," katanya.
Seperti
halnya dikatakan Wirawan, Hasan Basri juga menyampaikan, di Hari Imlek
ini, pihaknya juga ingin menjalin silaturahmi antar sesama mualaf warga
Tionghoa.
"Silaturrahminya pas momen Imlek tapi dikemas dengan kegiatan lomba kreasi hijab," ucapnya.
Hal
ini juga dibenarkan oleh salah satu peserta lomba, Riana. Kata mualaf
Tionghoa ini, meski tata cara berbusana sebagai muslimah harus
dikedepankan, bukan berarti mumutus hubungan silaturahmi.
"Sesama etnis Tionghoa, kita juga tetap harus menghormati saudara-saudara kita sesama yang nonmuslim," kata Riana.(hen)